Di jantung kota Kairo, tempat dunia menyimpan kenangan akan Firaun, terdapat sebuah mahakaya lain yang memancarkan kemilau peradaban yang berbeda: Museum of Islamic Art (MIA). Lebih dari sekadar museum, institusi ini adalah ensiklopedia hidup dan pengawal warisan yang menyimpan narasi keemasan peradaban Islam selama lebih dari 1.400 tahun. Dengan koleksi melebihi 100.000 artefak, museum ini diakui secara global sebagai museum spesialis seni Islam terbesar dan terlengkap di dunia, menjadi mercusuar yang menerangi pencapaian artistik, intelektual, dan spiritual umat Islam dari Spanyol hingga Asia.
Museum of Islamic Art di Kairo adalah khazanah utama warisan budaya Islam. Berbeda dengan museum lain yang mungkin memamerkan highlights terpilih, MIA Kairo menawarkan kedalaman dan keluasan yang tak tertandingi. Koleksinya yang sangat besar menjadikannya sumber pengetahuan primer bagi peneliti, sejarawan, dan pecinta seni dari seluruh dunia. Museum ini tidak hanya memajang seni dekoratif yang indah, tetapi juga secara khusus menonjolkan kontribusi peradaban Islam dalam bidang sains dan teknologi, seperti astronomi, kedokteran, dan teknik, melalui koleksi manuskrip dan instrumen ilmiahnya yang langka.

Sejarah Berdirinya: Dari Kepingan Arsitektur hingga Museum Dunia
Ide untuk mendirikan museum berawal pada tahun 1880, tetapi cikal bakal koleksinya baru terkumpul pada 1881 atas dekret Khedive Tawfīq. Awalnya bernama Museum of Arab Art, museum ini pertama kali menempati sebuah galeri di Masjid Al-Hakim, berisi 111 kepingan arsitektur yang diselamatkan dari bangunan-bangunan bersejarah Kairo yang rusak. Pada 1903, koleksi yang terus bertambah akhirnya mendapatkan rumah permanen di gedung baru yang megah di kawasan Bab Al-Khalq, dirancang oleh Alfonso Manescalo dengan gaya neo-Mamluk yang menakjubkan. Nama museum resmi berganti menjadi Museum of Islamic Art pada tahun 1952.
Perjalanan museum ini sempat tercoreng oleh tragedi. Pada 24 Januari 2014, sebuah ledakan bom mobil yang menargetkan markas kepolisian di seberang jalan merusak fasade museum dan 179 artefak di dalamnya. Setelah proyek restorasi besar-besaran yang didukung oleh UNESCO dan berbagai negara donor, museum kembali dibuka dengan penuh kemegahan pada bulan Januari 2017, membuktikan ketahanan warisan budaya ini.
Gedung museum adalah artefak pertama yang menyambut pengunjung. Dirancang dengan gaya neo-Mamluk, gedung ini merupakan penghormatan sekaligus kelanjutan dari tradisi arsitektur agung yang pernah berkembang di Kairo. Fasadnya dihiasi dengan ukiran geometris dan kaligrafi yang rumit, langsung memberi gambaran tentang keindahan yang tersimpan di dalam. Tata letaknya yang fungsional terdiri dari dua lantai utama: lantai dasar untuk ruang pameran, dan lantai atas untuk penyimpanan koleksi umum.

Dengan lebih dari 100.000 objek, hanya sekitar 4,500 artefak yang dipajang di 25 hall, menawarkan petualangan yang kaya namun terkurasi. Koleksi ini mencakup periode dinasti Islam utama dari abad ke-7 hingga ke-19, termasuk Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, Ayyubiyah, Mamluk, dan Ottoman. Kekuatannya tidak hanya pada kronologi, tetapi juga pada keragaman geografis, dengan benda-benda berasal dari Mesir, Afrika Utara, Andalusia (Spanyol Islam), Jazirah Arab, Iran, dan Turki.
Sorotan Koleksi Utama
Berikut adalah beberapa mahakarya yang tidak boleh dilewatkan:
Pameran diatur dengan dua pendekatan: Sayap Kanan museum menyajikan artefak berdasarkan urutan periode sejarah, sementara Sayap Kiri mengelompokkannya berdasarkan tema, seperti sains, astronomi, kaligrafi, dan tekstil.

Museum of Islamic Art Kairo memegang peran yang jauh melampaui fungsi sebuah museum biasa. Ia adalah:
- Penjaga Memori Kolektif: Museum ini menyelamatkan dan melestarikan kepingan-kepingan sejarah fisik yang mungkin telah hilang, menjadi penjaga memori kolektif peradaban Islam.
- Jembatan Pemahaman: Dengan memamerkan pencapaian di bidang seni dan sains, museum ini menghancurkan stereotip dan menawarkan pemahaman yang holistik tentang kontribusi peradaban Islam kepada dunia.
- Simbol Ketahanan: Kisah kehancuran dan kebangkitannya pasca-ledakan 2014 menjadikannya simbol ketahanan budaya dan komitmen global untuk melindungi warisan umat manusia.
6. Informasi Praktis untuk Berkunjung
- Lokasi: Bab Al-Khalq, Port Said Street, Cairo. Berdekatan dengan Perpustakaan Nasional Mesir.
- Akses: Mudah dijangkau dengan taksi atau metro (turun di Stasiun Sadat, lalu berjalan kaki ±15 menit).
- Tiket (2024):
- Jam Operasi: Biasanya 9 pagi hingga 5 sore, dengan loket tiket menutup pukul 4 sore. Jam operasional dapat berubah, terutama selama bulan Ramadan.
- Tips: Patuhi peraturan museum, seperti tidak menyentuh koleksi, tidak menggunakan lampu kilat, dan mengenakan pakaian yang sopan. Fotografi dengan ponsel biasanya diperbolehkan tanpa biaya tambahan.
Cari layanan LA Umroh yang amanah ?
Temukan di MoslemTour.com, dengan pilihan paket dan harga yang kompetitif yang dapat di sesuaikan dengan kebutuhan grup anda, untuk informasi lebih lanjut tentang paket perjalanan dan Land Arrangement Haji & Umrah segera kunjungi webnya ya.
Cari tiket dan hotel dengan harga termurah ? temukan di mesin pencari tikethaji.com